Sejarah Masuknya Sepak Bola di Indonesia

Sejarah Masuknya Sepak Bola di Indonesia

Sejarah Masuknya Sepak Bola di Indonesia

 

Sejarah Masuknya Sepak Bola di Indonesia – Sepak bola adalah sebuah permainan yang dimainkan oleh 2 tim dan menggunakan bola sebagai alat dalam permainan. Setiap tim terdiri dari sebelas pemain dan beberapa pemain cadangan. Sepak bola hingga saat ini telah dimainkan lebih dari 250 juta orang dari dua ratus negara lebih. Hingga saat ini sepak bola menjadi permainan paling populer.

Sepak bola UGDEWA ditemukan di Cina pada abad ke-2 sebelum masehi. Sepak bola pertama kali dimainkan dengan bola yang dibuat dari kulit dan digiring menggunakan kaki. Pada tahun 1365, Raja Edward III melarang permainan sepak bola dimainkan, oleh karena dianggap banyak kekerasan selama pertandingan berlangsung.

Sepak bola Indonesia dimulai pada tahun 1914 yang mana pada masa itu Indonesia masih dijajah oleh pemerintah Hindia Belanda. Persaingan antar kota di Jawa pada masa itu hanya di perebutkan oleh dua tim atau di dominasi dua tim saja, yaitu Kota Batavia dan Kota Surabaya.

Sepak Bola Modern di Indonesia dimulai dengan terbentuknya PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) pada tanggal 19 April 1930 di Yogyakarta dengan diketuai oleh Soeratin Sosrosoegondo. Sebagai organisasi olahraga yang lahir pada jaman penjajahan Belanda, tentunya lahirnya PSSI tidak terlepas dari aktivitas politik melawan penjajahan.

Kapankah Pembentukan PSSI?

PSSI didirikan pertama kali oleh seorang insinyur sipil bernama Soeratin Sosrosoegondo. Ia menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman, pada tahun 1927 dan pulang ke Indonesia pada tahun 1928. Sekembalinya ia dari pendidikannya, Soeratin bekerja di sebuah perusahaan bangunan Belanda yang bernama Sizten en Lausada yang berkantor pusat di Yogyakarta.

Soeratin ialah seorang pemuda yang aktif di bidang pergerakan. Sebagai seorang pemuda yang gemar dalam bermain sepak bola, ia menyadari pentingnya mengimplementasikan butir-butir yang disepakati dalam pertemuan pemuda Indonesia yang disebut dengan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Soeratin melihat sepak bola sebagai wadah terbaik untuk menabur nasionalisme di kalangan pemuda sebagai salah satu sarana untuk melawan Belanda.

Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, Soeratin sering mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh sepak bola di Solo, Yogyakarta, dan Bandung. Pertemuan itu dilakukan secara diam-diam dengan kontak pribadi untuk menghindari penyergapan Polisi Belanda (PID).

Kemudian, saat bertemu di hotel kecil Binnenhof di Jalan Kramat 17, Jakarta, Soeri, ketua Voetbalbond Indonesische Jakarta atau yang disebut dengan VIJ, serta pengurus lainnya, mematangkan ide organisasi sepak bola nasional.

Selanjutnya pematangan pemikiran tersebut dilakukan lagi di Bandung, Yogyakarta, dan Solo yang mana dilakukan bersama beberapa tokoh pergerakan nasional, seperti Amir Notopratomo, Daslam Hadiwasito, A. Hamid, dan Soekarno. Sedangkan untuk kota-kota yang lain, pendewasaan dilakukan melalui kontak pribadi melalui kurir, seperti halnya yang dilakukan Soediro yang menjadi Ketua Umum Himpunan Muda Magelang.

Dari pertemuan tersebut diputuskan untuk membentuk PSSI, yang merupakan kependekan dari Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia. Nama PSSI tersebut kemudian berubah dalam kongres PSSI di Solo pada tahun 1930 menjadi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia dan sekaligus menetapkan Ir. Soeratin sebagai ketua umum.

Kemudian pada masa kemerdekaan anggota PSSI UGDEWA bertambah hingga mencapai 40 kota yang tersebar di Jawa, Makasar, Medan, dan Padang pada tahun 1942, hal tersebut menunjukkan minat bangsa yang tinggi terhadap sepak bola. Oleh sebab perkembangannya yang pesat PSSI dibubarkan oleh pemerintah kolonial Jepang karena pada masa itu Indonesia berada di bawah kekuasaan kolonial Jepang dan semua kegiatan pengumpulan massa harus berada di bawah pengawasan Jepang, maka tidak ada pertandingan sepak bola yang tercatat selama pendudukan Nippon.

Setelah kemerdekaan penuh pada tahun 1945, semangat sepak bola Indonesia kembali meningkat. Salah satu momentum penentuannya adalah dengan diadakannya Pekan Olahraga Nasional atau yang dikenal dengan PON pada tahun 1948. Akhirnya pada tahun 1950, PSSI kembali aktif melalui transformasi jurusan sepak bola dalam olahraga republik. Pada tahun yang sama pula, Persib Bandung menjuarai kompetisi nasional yang diadakan di Semarang setelah mengalahkan Persebaya Surabaya di partai puncak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *